Beranda » Uncategorized » KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI dan KOORDINASI DALAM SISTEM KURS MENGAMBANG (Studi Kasus : Pengalaman Kurs Gejolak Harga Minyak 1973-1980)

KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI dan KOORDINASI DALAM SISTEM KURS MENGAMBANG (Studi Kasus : Pengalaman Kurs Gejolak Harga Minyak 1973-1980)

By: MUSBITUL HASANAH/ EKONOMI PEMBANGUNAN

 

 

KEBIJAKAN MAKRO EKONOMI dan KOORDINASI DALAM SISTEM

KURS MENGAMBANG

(Studi Kasus : Pengalaman Kurs Gejolak Harga Minyak 1973-1980)

 

Sistem kurs mengambang adalah suatu sistem devisa di mana kurs suatu mata uang dengan mata uang yang lain dibiarkan untuk ditentukan secara bebas oleh tarik-menarik kekuatan pasar. Pada sistem ini keterkaitan sistem harga antarnegara terbentuk, karena kurs bebas dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan nilai mata uang dalam negeri yang dinyatakan dalam emas.

Keterkaitan sistem harga antarnegara tersebut bisa dilaksanakan apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Mata uang yang digunakan tidak convertible atau tidak dikaitkan secara langsung dengan emas.
  2. Tidak ada pembatasan penggunaan valuta asing.
  3. Kurs valuta asing ditentukan oleh kekuatan pasar.

Ada dua macam sistem kurs mengambang, yaitu:

  1. Sistem kurs mengambang yang murni (clean float), adalah sistem kurs mengambang tanpa adanya campur tangan (intervensi) pemerintah. Sehingga dalam hal ini pemerintah tidak berusaha untuk menstabilkan kurs valuta asing.
  2. Sistem kurs mengambang kurang murni (dirty float atau managed floating exchange rate), adalah sistem kurs mengambang di mana masih terdapat intervensi pemerintah yang berperan sebagai penguasa moneter melalui pasar.

Penggunaan sistem kurs mengambang dapat menggoncangkan salah satu negara yang sedang mengalami defisit neraca pembayaran. Akan tetapi di lain pihak akan menguntungkan negara yang mengalami surplus neraca pembayaran, karena dengan meningkatnya ekspor juga akan meningkatkan kurs mata uang, sebaliknya bagi negara yang impornya lebih besar akan menurunkan kurs mata uangnya. Untuk mengatasi hal semacam itu, maka perlu digunakan sistem pengawasan devisa (valuta asing) oleh pemerintah yang bersangkutan.

 

Keunggulan Dan Kelemahan Sisitem Krus Mengambang

Ada beberapa keunggulan kurs mengambang yaitu :

  1. Otonomi kebijakan moneter

Adalah suatu kebijakan bank sentral yang tidak lagi mengintervensi pasar uang guna membakukan kurs maka pemerintah akan memperoleh kembali menggunakan kebijakan moneter untuk mencapai sasaran keseimbangan internal dan eksternal. Misalnya pembelian aset  domestik ,pembelian aset domestik dapat menurunkan suku bunga domestik dan menyebabkan mata uangnya mengalami depresiasi di pasar valuta asing. Agar kurs pulih kembali maka bank sentral harus menjual sebagian cadangan luar negerinya yang akan menyerap penawaran uang kembali ke posisi semula.

  1. Simetri

Dalam kondisi simetri, setiap negara tidak lagi mengatur perekonomian dunia semaunya sendiri. Akan tetapi setiap negara memiliki peluang yang sama untuk mempengaruhi kurs mata uang masing-masing terhadap mata uang lainnya. Krus semua negara akan terbentuk secara simetris oleh pasar valuta asing, bukan oleh keputusan pemerintah dimanapun.

  1. Kurs sebagai stabilisator otomatis

Artinya meskipun kebijakan moneter tidak berjalan lancar, tetapi proses penyesuaian kurs yang terbentuk dari kekuatan pasar akan membantu semua negara dalam mempertahankan keseimbangan internal dan eksternal dalam menghadapi permintaan agregat. Jadi secara teoritis , untuk menghadirkan proses penyesuaian yang lancar dan relatif tidak merugikan terjadinya perubahan ekonomi tertentu, seperti inflasi luar negeri.

Sedangkan kelemahan utama sistem kurs mengambang yaitu :

  1. Disiplin

Para pendukung sistem kurs mengambang yakin bahwa sistem ini memberikan kebebasan yang lebih besar bagi pihak pemerintah guna memanfaatkan kebijakan moneter. Namun bagi para pengecamnya, sistem ini diyakini bisa menimbulkan akibat yang lebih merugikan, yakni mendorong bank-bank sentral yang khawatir kehilangan cadangan internasionalnya untuk memberlakukan kebijakan baik kebijakan moneter maupun fiskal.

  1. Spekulasi dan gangguan pasar uang yang merusak stabilitas

Jika para pedagang valuta asing mengetahui bahwa suatu mata uang mengalami depresiasi, maka mereka segera menjual mata uang itu  karena mengharapkan depresiasi itu berlangsung terus, tanpa menghiraukan prospek jangka panjangnya. Bila penjualan secara besar-besaran ini terjadi, maka depresiasi itupun benar-benar berlangsung terus. Spekulasi perusak stabilitas (destabilishing speculation) ini cenderung memperbesar gejolak nilai jangka panjang kurs dari yang seharusnya terjadi akibat suatu gangguan ekonomi tak terduga. Terlepas dari dampak negatifnya terhadap perdagangan internasional, penjualan mata uang lemah yang merusak stabilitas nilainya itu merangsang timbulnya keyakinan akan terjadi inflasi dan mendorong kenaikan tingkat harga serta upah sehingga pada akhirnya memacu terjadinya depresiasi lebih lanjut.

  1. Ancaman terhadap investasi dan perdagangan internasional

Sistem kurs mengambang membuat harga-harga internasional makin sulit dipastikan atau diprediksikan sehingga mengganggu arus investasi dan perdagangan internasional.

  1. Kebijakan-kebijakan ekonomi yang tak terkoordinasi

Sistem ini membantu tumbuhnya perdagangan internasional yang teratur karena sistem tersebut melarang terjadinya persaingan depresiasi mata uang yang pernah terjadi selama depresiasi besar. Bila semua negara kembali membebaskan mengubah kurs sekehendaknya maka masing-masing negara akan menerapkan kebijakan makro ekonomi sepihak demi keuntungannya sendiri tanpa menghiraukan dampak negatifnya terhadap negara-negara lain, sehingga pada akhirnya semua negara dirugikan.

  1. Ilusi mengenai otonomi yang lebih besar

Sistem kurs mengambang sebenarnya tidak sepenuhnya memberikan otonomi kebijakan bagi setiap negara. Perubahan-perubahan kurs menimbulkan pengaruh-pengaruh makro ekonomi yang mendalam yang akan memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebakuan kursnya meskipun tanpa komitmen formal. Jadi kurs mengambang hanya akan meningkatkan ketidakpastian dalam perekonomian dunia tanpa memberikan kebebasan yang lebih besar untuk menerapkan kebijakan makroekonomi.

 

Studi Kasus : Pengalaman Kurs Gejolak Harga Minyak 1973-1980

Studi kasus yang terkait terhadap kurs mengambang terjadi pada tahun 1973-1975 mengenai gejolak minyak pertama yang terjadi pada bulan Oktober 1973, disebabkan pecahya perang antara Israel melawan negara-negara Arab. Untuk memprotes dukungan Amerika Serikat dan Belanda kepada Israel, para anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) sebuah kartel internasional beranggotakan para produsen minyak terbesar memberlakukan embargo atas pengapalan minyak kedua negara tersebut guna mencegah batalnya pengapalan minyak karena para pembeli bersedia membayar lebih mahal untuk memborong minyak di pasar internasional. Akibat pecahnya perang tersebut harga minyak telah naik empat kali lipat dari $3 per barel harga sebelum pecah perang, menjadi $12 per barel.

Lonjakan besar harga minyak melipatgandakan harga energi yang harus dibayar para konsumen dan menerbangkan biaya operasi perusahaan pemakai energi, lonjakan tersebut juga berdampak pada produk minyak nonenergi seperti plastik. Kasus ini berdampak pada  makroekonomi yang sama dengan yang ditimbulkan oleh lonjakan pajak konsumen dan lonjakan pajak usaha secara bersamaan, tingkat konsumsi dan investasi di berbagai tempat merosot tajam dan perekonomian dunia terjebak dalam resesi. Selain itu juga berdampak pada anggaran impor para negara konsumen minyak, sehingga neraca transaksi berjalan mereka memburuk. Di sejumlah negara kenaikan inflasi bahkan hampir dua kali lipat meskipun tingkat penganggurannya membumbung tinggi.

TABEL 1.1

Lonjakan inflasi di negara-negara industri terkemuka, 1973-80 (persentase per tahun)

Negara 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980
Amerika 6,2 11,1 9,1 5,7 6,5 7,6 11,3 13,5
Inggris 9,2 16,0 24,2 16,5 15,8 8,3 13,4 18,0
Kanada 7,6 10,9 10,8 7,5 8,0 8,9 9,2 10,2
Perancis 7,3 13,7 11,8 9,6 9,4 9,1 10,8 13,6
Jerman 6,9 7,0 6,0 4,5 3,7 2,7 4,1 5,5
Italia 10,8 19,1 17,0 16,8 17,0 12,1 14,8 21,2
Jepang 11,7 24,5 11,8 9,3 8,1 3,8 3,6 8,0

Sumber: OECD,Economic outlook: Histirical statistics, 1960-1986. Paris:OECD.1987. Angka di atas adalah persentase kenaikan indeks harga saham rata-rata    tahunan      terhadap indeks setahun sebelumnya

 

Faktor terpenting naiknya laju inflasi dengan adanya gejolak harga minyak itu sendiri. Selama dekade 1960an, tekanan inflasi sudah menyebar ke seluruh dunia memuncak menjadi tuntutan kenaikan upah sehingga semakin memacu tingkat inflasi meskipun angka employment terus memburuk. Lonjakan harga minyak tersebut tidak hanya menjadi kejutan yang merugikan perekonomian saat itu. Untuk menggambarkan kondisi makroekonomi yang luar biasa pada 1974-1975, para ekonom memunculkan istilah stagflasi yang merupakan kombinasi kondisi output yang stagnan (macet). Stagflasi bersumber dari 2 faktor yaitu :

  1. Kenaikan harga-harga komoditi yang secara langsung melonjakkan inflasi dan menekan tingkat penawaran serta permintaan agregat dalam waktu bersamaan.
  2. Perkiraan terus berlangsungnya inflasi yang mendorong kenaikan upah dan harga-harga lainnya meskipun perekonomian tengah mengalami resesi dan angka pengangguran terus meningkat.

TABEL 1.2 tingkat pertumbuhan moneter negara-negara industri terkemuka ,

1973-1980(persentase pertahun)

Negara 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980
Amerikia 5,6 4,4 4,8 6,6 8,0 8,6 7,0 6,6
Inggris 5,1 10,8 18,0 11,2 21,7 16,3 9,1 4,0
Kanada 11,1 5,8 23,1 1,9 11,7 8,3 3,7 10,5
Perancis 9,7 11,6 16,6 7,3 11,7 11.1 12,8 6,9
Jerman 2,6 10,9 13,5 3,9 11,4 14,3 4,2 38
Italia 24,2 11,0 12,2 19,7 21,4 25,8 24,4 13,5
Jepang 16,8 8,6 11,2 13,0 7,1 10,8 7,9 -1,5

Sumber : OECD,Economic outlook: Histirical statistics, 1960-1986. Paris:OECD.1987(data perancis pada 1974 diambil dari OECD, main economic indicators:histirical statistics, 1964-1983.paris :OECD,1984) Angka di atas adalah persentase kenaikan jumlah uang M1 di setiap akhir  tahun  terhadap nilai akhir tahun sebelumnya.

 

Pukulan terberat lonjakan harga-harga komoditi diterima oleh keseimbangan internal dan eksternal negara-negara pengimpor minyak. Keseimbangan internal-eksternal ini lebih buruk bila dibandingkan dengan sistem kurs mengambang mulai berlaku pada tahun 1973. Negara ini tidak sempat menikmati sejumlah keuntungan dari melonggarnya kurs, dan meeka langsung dihadapkan pada keharusan menggunakan kebijakan moneter untuk mempertahankan kebakuan kurs. Parahnya resesi pada tahun 1974 dan di awal 1975 mendorong banyak negara untuk beralih kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif. Tabel 1.2 memperlihatkan peningkatan pertumbuhan moneter 7 negara industri selama periode tesebut. Bank sentral masing-masing negara berusaha menekan tingkat pengangguran uang semakin mencemaskan. Negara-negara OPEC, yang tidak bisa meningkatkan pembelanjaannya sebanyak kenaikan pendapatannya terus mengalami surplus besar pada tahun 1975 dan 1976. Sebaliknya, negara-negara berkembang pengimpor minyak masih saja dirundung defisit. Karena negara berkembang bukan penghasil minyak tidak memotong anggaran belanja sebanyak yang dilakukan negara industri, pertumbuhan GNP negara berkembang secara keseluruhan tidak menjadi negatif pada tahun 1975, seperti yang dialami banyak negara maju. Mereka membayar sebagian impor minyaknya dari pinjaman yang bersumber dari simpanan negara OPEC di pusat keuangan negara industri.

Gejolak minyak kedua , 1979-1980, di latar belakangi karena runtuhnya kekuasaan shah iran pada tahun 1979 yang  menyulut rentetan lonjakan harga minyak yang kedua akiba terhentinya arus ekspor minyak dari negara itu. Harga minyak membungbung dari $13 perbarel pada 1978, menjadi sekitar  $32 pada tahun 1980 akibat ketergesaan negara pengimpor untuk mengadakan  cadangan minyak sebanyak-banyaknya guna menghadapi  kemungkinan terhentinya suply minyak. Pada gejolak minyak yang pertama pada tahun 1973-1975 menunjukkkan kenaikan inflasi yang meningkat tajam di semua negara-negara industri hingga pada tahun 1980 yang menyebabkan Pertumbuhan output merosot dan pengangguran meningkat.

Pada tahun 1979-1980, pertumbuhan moneter sebenarnya sangat terbatasi karena negara-negara industri berupaya memerangi inflasi akibat kenaikan harga minyak. Beberapa negara bahkan menerapkan kebijakan fiskal kontraksioner dalam waktu bersamaan. Setelah merasakan sulitnya menekan inflasi pada awal 1970an, bank-bank sentral kini mencemaskan bahwa inflasi pada tahun 1978-1980 akan lebih sulit di atasi sehingga terjadi depresiasi dolarsecara tajam.

Upaya menekan inflasi harus di bayar mahal berupa melonjaknya pengamggura dan merosotnya tingkat output. Angka pengangguran menanjak pada tahun 1981 ( lihat tabel 1.3), dan penerapan kebijan makroekonomi yang restriktif sangat menyulitkan pemulihan tingkat output. Pemulihan yang sedikit timbul setelah terjadinya kejutan harga minyak langsung punah ketika perekonomian dunia mulai 1981,terjebak dalam resesi yang paling parah sejhak depresi besar-besaran pada tahun 1930an.

Tabel 1.3 Tingkat pengangguran di negara-negara industri terkemuka,1979-1988     (sebagai persentase dari total angkatan kerja)

Negara 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988
Amerika 5,8 7,0 7,5 9,5 9,5 7,4 7,1 6,9 6,1 5,4
Inggris 5,0 6,4 9,8 19,3 12,4 11,7 11,2 11,2 10,2 8,3
Kanada 7,4 7,4 7,5 10,9 11,8 11,2 10,4 9,5 8,8 7,7
Perancis 5,9 6,3 7,4 8,1 8,3 ,7 10,2 10,4 10,5 10,1
Jerman 3,2 3,0 4,4 6,1 8,0 7,1 7,2 6,4 6,2 6,2
Italia 7,6 7,5 7,8 8,4 9,3 9,9 10,1 10,9 11,8 11,8
Jepang 2,1 2,0 2,2 2,4 1,6 2,7 2,6 2,8 2,8 2,5

Sumber: OECD, Economic Outlook 45 (Juni 1985)

 

Koordinasi Kebijakan Makroekonomi Dengan Sistem Krus Mengambang

Sistem kurs mengambang tidak mempromosikan koordinasi dengan kebijakan internasional pada beberapa peristiwa, misalnya selama disinflasi di awal 1980an, negara-negara industri sebagai sebuah kelompok gagal mencapai sasaran-sasaran makroekonomi secara lebih efektif melalui negosiasi pendekatan bersama untuk mencapai atau menetapkan sasaran bersama. Meskipun kebijakan makroekoomi sepihak acapkali menjadi masalah, pengecam sistem kurs mengambang tidak bisa membuktikan bahwa masalah itu akan terselesaikan dengan diberlakukannya sistem kurs alternatif. Dalam sistem kurs baku, misalnya setiap negara selalu berpeluang menndevaluasikan mata uangnya secara sepihak untuk mencapai tujuan atau nasionalnya sendiri. Hasil pengaturan zona target kurs secara informal yang disusun pada kesepakatan Louvre menunjukkan adanya perbedaan mencolok antara kesepakatan untuk mempertahankan kurs pada tingkat tertentu dengan koordinasi kebijakan yang sesungguhnya.

 

KESIMPULAN

  • Kelemahan sistem Bretton Woods mendorong banyak ekonom menerapkan sistem kurs mengambang, mereka mengemukakan tiga argumen kelebihan sistem mengambang yaitu :
  1. sistem kurs mengambang memberi otonomi yang lebih besar kepada para perumus kebijakan makroekonomi nasional dalam mengelola perekonomian masing-masing.
  2. Mereka meramalkan bahwa sistem kurs mengambang akan dapat mengikis ketimpangan atau simetris yang termaktub dalam sistem Bretton Woods.
  3. Ekonom yakin bahwa sistem kurs mengambang dengan cepat memperkecil disequilibrium fundamental yang dalam siste kurs baku telah mengakibatkan perubahan paritas dan serangan spekulatif yang menggoyahkan sistem itu sendiri.
  • Periode 1973-1980 merupakan periode dimana sistem kurs mengambang mampu berfungsi cukup baik secara keseluruhan yaitu sistem ini telah melepaskan banyak negara dari keharusan mempertahankan kebakuan kurs dalam menghadapi stagnasi yang diakibatkan oleh dua kejutan harga minyak. Dollar mengalami depresiasi tajam sejak 1976 karena Amerika Serikat menerapkan kebijakan makroekonomi yang lebih ekspansioner daripada negara industri lainnya.

 

REFERENSI

Paul R. Krugman and Maurice Obstfeld, ekonomi internasional teori dan kebijakan,1992 penerjemah PAU-FE universitas Indonesia dengan Harercollins Publishers.Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s